Kondisi Fisik Wilayah Indonesia dan Posisi Wilayah Indonesia

Kondisi Fisik Wilayah Indonesia dan Posisi Wilayah Indonesia

httips.guruindonesia.id---Negara kita sering disebut sebagai negara yang kaya sumber daya alam. Tanah yang subur, flora dan fauna yang beragam, serta cuaca yang cerah sepanjang satu semester tiap tahun menjadi salah satu daya tarik negara ini.
Ternyata berbagai kelebihan tadi dipengaruhi oleh posisi wilayah Indonesia. Di mana sebenarnya posisi kita? Untuk mempermudah penentuan itu, para ilmuwan menandakan garis lingkaran imaji-ner dari bumi sebelah timur ke barat yang tidak saling berpotongan, disebut garis lintang. Dari kutub utara dan kutub selatan pun dibuat garis yang dikenal dengan nama garis bujur.
Posisi Wilayah Indonesia dan Pengaruhnya
Posisi suatu negara sangat ditentukan oleh letak astronomis dan letak geografis. Bagaimana kedua letak tersebut memberikan ciri khusus?
A. Letak astronomis Indonesia
Letak astronomis adalah letak tempat berka-itan dengan garis lintang dan bujur. Kedua garis tersebut dibuat oleh para ilmuwan dunia dengan menghitungkan keberadaan matahari dan bintang (secara astronomis).
Menurut perhitungan itu, wilayah Indonesia terletak di antara 6o LU – 11o LS dan 95o BT – 141oBT. Batas letak astronomis wilayah Indonesia berada pada daerah berikut.
Pulau Papua (batas dengan Papua Nugini) ada-lah batas untuk Bujur Timur (141oBT).
Pulau We adalah batas Bujur Barat (95oBB) dan batas untuk LintangUtara (6oLU).
Pulau Roti (NTT) adalah batas untuk Lintang Selatan (11oLS).
Berbagai pengaruh yang ada oleh letak astrono-mis tersebut adalah sebagai berikut.
a. Pengaruh akibat letak lintang
Karena letak lintangnya, Indonesia mendapat pengaruh iklim tropis, sebagai berikut.
  • Hanya memiliki dua jenis musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
  • Memiliki curah hujan dan kelembaban tinggi, akibatnya Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang luas dengan segala potensinya.
  • Pemanasan matahari berlangsung sepanjang
  • Panjang waktu siang dan malam relatif samadan tetap sepanjang tahun.tahun (temperatur rata-rata 26,3C)
b. Pengaruh akibat letak bujur
Karena wilayahnya menempati 95o BT -141o BT, Indonesia memiliki tiga daerah waktu. Bagaimana hal itu terjadi? Setiap selang 15 o terdapat selang waktu satu jam, sebab setiap satu jam, bumi ber-putar sejauh 15o ( 360o/24). Jadi, Indonesia yang me-miliki lebar bujur 46o terbagi menjadi tiga daerah waktu.
Berpedoman pada 0o yang ditetapkan di Green-wich (Greenwich Mean Time/GMT), Inggris, tiga daerah waktu Indonesia adalah sebagai berikut.
Waktu Indonesia Barat (WIB) = GMT + 7 jam, meliputi Sumatera, Jawa, Madura, dan Kali-mantan Barat dan Tengah.
Waktu Indonesia Tengah (WITA) = GMT + 8 jam, meliputi Kalimantan Timur dan Selatan, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara.
Waktu Indonesia Timur (WIT) = GMT + 9 jam, meliputi Maluku dan Papua.
B. Letak geografis Indonesia
Letak geografis adalah letak suatu wilayah di-tinjau dari kenyataannya di muka bumi. Letak tersebut berkaitan dengan posisi relatif suatu wilayah terhadap wilayah lain di sekitarnya. Kondisi geografis dipengaruhi letak astronomis. Perhatikan gambar 1.1.1 berikut!
Gambar 1.1.1 Indonesia terletak di antara dua samudera dan dua benua

Oleh pengaruh letak astronomis, secara geo-grafis Indonesia berada pada posisi strategis. In-donesia terletak di antara dua samudera (Samu-dera Hindia dan Samudera Pasifik) dan dua benua (Benua Asia dan Benua Australia).
Posisi strategis Indonesia memberikan berba-gai pengaruh sebagai berikut.
Indonesia dipengaruhi oleh angin muson se-hingga musim berganti tiap enam bulan sekali.
Indonesia berada pada pertemuan dua jalur pe-gunungan muda. Akibatnya memiliki banyak gunung api, rawan terhadap gempa bumi, dan kaya bahan tambang.
Posisi di antara dua samudera menjadikan In-donesia sebagai jalur lalu lintas perdagangan internasional.
Posisi di antara dua benua membuat Indone-sia memiliki keanekaragaman flora fauna, serta keuntungan politis.Secara keseluruhan Indonesia terletak di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta di antara Benua Asia dan Benua Australia. Namun da-lam lingkup kecil, setiap pulau memiliki batas geo-grafis berbeda. Perhatikan kembali gambar 1.1.1!
Sebagai contoh:
Pulau Sumatera dan Jawa berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di bagian barat laut dan selatan, namun tidak demikian dengan Pulau Kalimantan dan Sulawesi.
Pulau Papua berbatasan dengan Samudera Pasifik di bagian utara. Di bagian selatan Papua dan Nusa Tenggara berbatasan dengan Benua Australia, sedangkan pulau-pulau di bagian barat Indonesia berbatasan dengan Benua Asia.
Perubahan musim Indonesia akibat letaknya
Bagaimana posisi memengaruhi terjadinya perubahan musim di Indonesia?
a. Indonesia di wilayah iklim tropis
Pembagian daerah iklim dunia berdasarkan penyinaran matahari adalah sebagai berikut.
Iklim tropis (231/2o LU – 231/2o LS), memiliki dua musim.
Iklim subtropis (231/2o – 35o LU/LS), dengan musim dingin samar-samar.
Iklim sedang (35o – 661/2o LU/LS), memiliki empat musim: panas, gugur, dingin, dan semi.
Iklim kutub (661/2o - 90o LU/LS), mengalami dingin sepanjang tahun. Suhu 10oC.
Wilayah Indonesia berada pada daerah iklim tropis, karena berada pada daerah lintang antara 231/2o LU – 231/2o LS. Lihat gambar 1.1.2 di bawah untuk mengetahui letak Indonesia berkaitan de-ngan iklimnya!
Gambar 1.1.2 Pembagian iklim menurut penyinaran Matahari

Dari gambar 1.1.2 kamu dapat melihat beberapa negara lain yang termasuk dalam daerah iklim tro-pis. Namun, meskipun berada dalam satu wilayah iklim ternyata perubahan musim di Indonesia tidak tepat sama dengan negara-negara tropis lain. Hal itu dipengaruhi oleh letak geografis!
b. Ciri-ciri musim di Indonesia
Musim adalah periode dalam satu tahun de-ngan karakteristik iklim tertentu. Dalam kondisi normal, Indonesia mengalami musim hujan dan kemarau secara bergantian tiap enam bulan sekali.
1. Musim hujan di Indonesia
Musim hujan adalah periode saat suatu daerah mengalami banyak hujan. Pada musim hujan cu-rah hujan rata-rata dalam sebulan dapat mencapai 150 mm atau lebih.
Sebagian besar wilayah Indonesia berpeluang mengalami musim hujan pada periode Oktober – April. Curah hujan semakin meningkat pada bulan November, lalu menurun mendekati bulan April. Namun, periode tersebut tidak berlaku mutlak un-tuk seluruh wilayah Indonesia. Misalnya, sebagian daerah di Indonesia bagian barat mengalami mu-sim hujan lebih cepat daripada bagian timur.
Berbagai aktivitas penduduk dan kejadian yang mewarnai musim hujan adalah sebagai berikut.
Musim hujan merupakan periode kegiatan ber-cocok tanam. Pada awal musim hujan, para pe-tani mulai menyemai benih, terutama jenis yang memerlukan cukup air dalam pertum-buhannya, seperti padi.
Jumlah air sungai periodik meningkat, dan se-ring kali membawa dampak negatif seperti ter-jadinya banjir dan longsor di berbagai tempat.
Aktivitas manusia di luar ruangan cenderung berkurang, terutama jika curah hujan tinggi dan berlangsung sepanjang hari.
2. Musim kemarau di Indonesia
Musim kemarau adalah suatu periode saat suatu daerah tidak menerima hujan. Kalaupun me-nerima hujan, jumlah curah hujan rata-rata ren-dah, yaitu kurang dari 150 mm per bulan.
Sebagian besar wilayah Indonesia berpeluang mengalami kemarau pada periode bulan April – Oktober. Berkurangnya curah hujan pada bulan April/Mei, pertanda dimulainya musim kemarau. Seperti halnya musim hujan, periode musim kema-rau tidak bersifat mutlak. Apabila musim hujan berlangsung lebih lama, maka musim kemarau akan datang lebih lambat. Kadang kala musim kemarau dapat berlangsung berkepanjangan. Ti-dak semua daerah di Indonesia mengalami periode musim kemarau yang sama.
Simaklah berbagai hal yang terjadi pada musim kemarau berikut ini!
Pada musim kemarau, kegiatan pertanian di Indonesia masih dapat berlangsung. Tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman yang tidak memerlukan banyak air dalam pertum-buhannya, seperti ubi kayu, bawang, temba-kau, cabai, dan lain-lain.
Pada musim kemarau, banyak sungai, sumber air, serta sumur mengalami penurunan jumlah air atau cenderung kering. Akibatnya, terjadi kekurangan air di berbagai wilayah.
Pada musim kemarau aktivitas di luar ruangan dapat berlangsung sepanjang hari. Namun ber-bagai gangguan harus dialami, terutama debu, dan panas. Pada musim kemarau sering kali terjadi kebakaran hutan.
3. Masa pancaroba
Masa pancaroba adalah istilah yang digunakan untuk menyebut periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah mareng (peralihan mu-sim hujan ke musim kemarau) dan labuh (peralihan musim kemarau ke musim hujan). Pada umumnya pancaroba berlangsung pada bulan April atau Ok-tober.
Pada masa pancaroba, kondisi cuaca belum sta-bil. Suhu udara, arah angin, maupun curah hujan tidak teratur. Saat udara panas, secara tiba-tiba dapat terjadi hujan deras.
Ketidakstabilan cuaca pada masa pancaroba menyebabkan terjadinya penyebaran berbagai je-nis penyakit, terutama gangguan pernafasan/flu.
4. Penyimpangan terhadap pergantian musim
Dalam keadaan normal, periode musim Indo-nesia adalah Oktober – April (musim hujan) dan April – Oktober (musim kemarau). Namun, kenya-taannya pergantian musim tidak selalu berlang-sung tepat sesuai periode itu. Kadang kala musim hujan datang lebih lambat di suatu tempat dan berlangsung lebih lama di tempat lain.
Terjadinya penyimpangan musim tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut.
Pola pergerakan angin musim
Pola pergerakan angin musim di Indonesia memberikan curah hujan yang berbeda. Hujan tu-run bergeser dari bagian barat ke timur.
Pantai barat Pulau Sumatera sampai dengan Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bu-lan November.
Lampung – Bangka, mendapat hujan terba-nyak pada bulan Desember.
Jawa bagian utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, berpeluang menda-pat curah hujan terbanyak periode Januari – Februari.
Curah hujan setiap bulan di wilayah pantai barat juga lebih banyak dibandingkan wilayah pantai timur.
Perbedaan pola hujan di wilayah Indonesia
Letak lintang tiap wilayah memengaruhi pola angin dan pola hujan di wilayah tersebut.
Daerah berpola ekuatorial, yaitu daerah ekua-tor (sebagian Kalimantan dan Sumatera), men-dapat hujan zenithal dua kali dalam setahun. Hujan ini sering terjadi di daerah ekuator akibat pertemuan Angin Pasat Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Angin naik membentuk awan yang menjadi jenuh lalu menjadi hujan.
Daerah berpola lokal, yaitu daerah yang dipe-ngaruhi kondisi setempat. Misalnya terjadinya pemanasan lokal yang tidak seimbang teruta-ma akibat adanya dataran tinggi dan pegu-nungan. Misalnya, wilayah Maluku, Papua, dan sebagian Sulawesi.
Pengaruh angin siklon
Beberapa angin siklon bertiup di sekitar Indo-nesia, seperti di Samudera Hindia. Angin siklon yang terjadi di wilayah tropis itu menyebabkan terjadinya hujan lebat di berbagai wilayah Indo-nesia. Mengapa? Karena siklon memengaruhi pem-bentukan awan hujan. Hujan yang terus-menerus menyebabkan kemarau datang lebih lambat.
Pengaruh ENSO
ENSO (El-Nino Southern Oscillation) atau dikenal sebagai El-Nino adalah kondisi fluktuasi lautan dan sistem atmosfer yang tidak teratur.
KILAS INFORMASI! 
Nama El-Nino ternyata berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak lelaki kecil. Anak lelaki kecil ini merujuk pada bayi Yesus. Pasalnya, angin ini biasa berembus pada bulan Desember, yakni menjelang Natal.
Ketidakteraturan itu berhubungan dengan ge-rakan massa atmosfer di antara wilayah Indone-sia (tekanan rendah) dan Pulau Paskah di Samudera Pasifik (tekanan tinggi).
El-Nino menyebabkan berbaliknya arus laut. Akibatnya wilayah Indonesia memasuki musim kemarau lebih awal atau sebaliknya periode kema-rau berlangsung lebih panjang.
Morfologi Indonesia
Morfologi adalah ilmu tentang bentuk muka bumi, terkait dengan struktur luar batu-batuan dan perkembangan ciri topografi.
Lapisan kulit bumi yang sangat tipis (litosfer) disebut juga lempeng bumi. Lempeng itu selalu me-ngalami pergeseran dan pergerakan yang menim-bulkan berbagai gejala tektonisme. Selain itu juga juga menimbulkan pengarug terbentuknya jalur pegunungan dan gunung api.
Wilayah Indonesia berada di daerah perbatas-an dua lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo-Aus-tralia dan lempeng Filipina. Indonesia dilalui oleh jalur pegunungan muda Sirkum Pasifik dan Sir-kum Mediterania.
Jalur Sirkum Pasifik sampai ke wilayah Indo-nesia, membentuk rangkaian Pegunungan Papua dan Halmahera.
Jalur Sirkum Mediterania sampai di Indonesia membentuk jalur Pegunungan Sunda. Jalur Pegu-nungan Sunda terbagi lagi menjadi dua jalur, yang dikenal sebagai busur luar dan busur dalam. Busur luar bersifat vulkanik sedangkan busur dalam bersifat nonvulkanik.
Busur luar yang bersifat nonvulkanik berada di tepi Kepulauan Indonesia, membentuk pulau-pulau kecil di sebelah barat Pulau Sumatera (Pulau
Simeuleu dan Nias, Kepulauan Mentawai, Pulau Sipora, Kepulauan Pagai dan Pulau Enggano), ber-lanjut ke selatan Pulau Jawa, Sumba, Sawu, Rote, Timor, Kepulauan Babar, Tanimbar, dan Kai, Pulau Seram, dan Pulau Buru. Coba bukalah atlasmu dan ikuti jalur tersebut dengan mengecek keberadaan pulau-pulau tersebut pada peta.
Busur dalam yang bersifat vulkanik, memben-tuk jalur pegunungan dan gunung api. Pulau yang berada pada garis busur ini sebagian besar memi-liki gunung api. Misalnya, Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Sumbawa, Flores, Solor, Alor, hingga Kepulauan Banda. Selain itu juga Pulau Sulawesi, Kepulauan Sangir Talaud, Tidore, Ternate, dan Papua. Coba buka kembali atlasmu dan temukan jalur tersebut!
Di Indonesia terdapat ratusan gunung api, yang sebagian besar berbentuk strato. Gunung api strato terjadi karena adanya timbunan- timbunan aliran lava atau erupsi eksplosif, diikuti dengan efusif (lelehan). Di kelas VII sudah kamu pelajari, bukan? Perhatikan tabel 1.1.1 gunung api berikut!

Tabel 1.1.1 Gunung api yang ada di Indonesia
Coba bukalah atlasmu dan temukan lebih ba-nyak gunung api yang ada di Indonesia!
Sekarang kamu sudah tahu, morfologi wilayah mengapa wilayah Indonesia banyak memiliki pegunungan dan gu-nung api. Berbagai gejala vulkanisme dan teknomisme rawan terjadi di wilayah Indonesia. Misalnya, letusan gunung api dengan gempa vulkanik yang mengawali atau me-nyertai. Pertemuan lempeng juga menjadikan wilayah Indonesia rawan gempa tektonik. Daerah rawan gempa tektonik, terutama berada pada jalur busur luar, meliputi: jalur pantai selatan Sumatera, pantai selatan Jawa, bali, Nusa Tenggara, hingga Timor. jalur Sulawesi utara, Maluku, hingga Papua. Coba amati kembali gambar 1.1.4!
Jenis Tanah di Indonesia
Tanah (soil), adalah lapisan teratas kulit bumi hasil akhir pelapukan batuan, tempat di mana ma-nusia dan berbagai makhluk hidup lain berpijak. Ilmu tentang tanah adalah Pedologi.
Faktor yang memengaruhi pembentukan tanah
Batuan induk yang pecah oleh pengaruh cuaca, iklim, dan erosi kimia, lama-kelamaan akan menja-di butiran pasir. Setelah bercampur dengan berba-gai bahan organik dan anorganik, akhirnya butiran tersebut akan membentuk tanah.
Berikut adalah berbagai faktor yang meme-ngaruhi proses pembentukan tanah.
1. Jenis batuan induk
Batuan induk menentukan jenis mineral yang terkandung dalam tanah. Batuan induk mengala-mi proses pelapukan, pengikisan, dan pengang-kutan serta pengendapan hingga menjadi jenis tanah tertentu.
2. Relief dan topografi
Relief dan topografi tempat memengaruhi alir-an air yang melintasi batuan. Aliran air yang kuat memengaruhi erosi, genangan air mempercepat proses pembusukan, dan sebagainya.
3. Iklim dan cuaca
Berbagai unsur iklim dan cuaca terutama tem-peratur dan curah hujan memengaruhi tingkat pe-lapukan, proses pelarutan, dan sebagainya.
Batuan induk mengalami pengaruh iklim dan cuaca. Batuan induk pecah dan mengalami pelapukan.
c . Tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme membantu pela-pukan.
Semakin lama proses pelapukan, tanah yang terbentuk di bagian atas semakin tebal.
4. Aktivitas biologis
Berbagai makhluk hidup (tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroorganisme) dan segala aktivi-tasnya memengaruhi proses pembentukan tanah.
5. Jangka waktu
Perbedaan lamanya waktu pembentukan ta-nah memengaruhi jenis tanah yang dihasilkan.
B. Karakteristik tanah
Faktor-faktor di atas berbeda pada setiap wila-yah muka bumi. Akibatnya terbentuklah ratusan jenis tanah dengan ciri khusus. Misalnya:
jenis tanah di daerah tropis, tua, dan dalam;
jenis tanah di gurun, muda, dan dangkal;
jenis tanah di daerah sedang, setengah tua, dan cocok untuk pertanian.
Gambar 1.1.6 a) Tanah di daerah tropis

b) Tanah di gurun c) Tanah di daerah sedang
Banyak cara yang digunakan untuk mengelom-pokkan ratusan jenis tanah tersebut. Misalnya, pe-ngelompokan berdasarkan:
kandungan zat kimia;
warna dan tekstur;
jumlah materi organik yang terkandung dalam tanah, dan lain-lain.
Penelitian tanah mula-mula dilakukan oleh se-orang bangsa Rusia. Itulah sebabnya banyak tanah dinamakan dengan bahasa Rusia.
Jenis dan ciri-ciri tanah di Indonesia
Dari ratusan jenis tanah di muka bumi, bebe-rapa jenis yang paling banyak dijumpai di Indone-sia adalah sebagai berikut.
a. Tanah vulkanis (andosol)
Tanah vulkanis atau tanah andosol (tuff), ber-asal dari hasil pelapukan debu vulkanis dan mate-rial letusan gunung api lainnya.
Tanah ini banyak terdapat di daerah gunung api, terutama yang sudah pernah meletus. Jenis ta-nah ini sangat subur dan baik untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Ciri-ciri tanah vulkanis adalah berwarna kelabu hingga kuning dan peka terhadap erosi.
b. Tanah aluvial
Tanah aluvial berasal dari endapan lumpur su-ngai. Tanah ini banyak ditemukan di sepanjang lembah, pertemuan sungai dan laut, bantaran su-ngai (kanan kiri sungai), kaki gunung, dataran yang sering dilanda banjir (flood plains), serta muara su-ngai (delta).
Tanah aluvial sangat subur dan cocok untuk tanaman padi, palawija, tebu, tembakau, karet, ke-lapa, dan kopi. Ciri-ciri tanah aluvial: warna kelabu dan sifatnya peka terhadap erosi.
c. Tanah humus
Tanah humus adalah sisa-sisa hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan yang telah diuraikan oleh or-ganisme kecil dalam tanah. Humus memulihkan zat kimia yang berguna bagi tanah, sehingga tum-buhan dapat hidup.
Tanah humus sangat subur dan cocok untuk lahan pertanian. Ciri-cirinya: berwarna kehitam-an, subur mengandung bahan organik, dan mudah basah.
d. Tanah laterit
Tanah laterit adalah tanah yang terjadi karena adanya pelarutan garam-garaman di dalam batu-an, sehingga tinggal oksidasi besi dan aluminium. Pelarutan oleh air hujan terjadi pada daerah ber-suhu tinggi. Berbagai mineral yang telah larut diba-wa air ke tempat lebih rendah.
Tanah laterit kurang subur, hanya tepat untuk tanaman palawija, hortikultura, dan karet. Tanah ini banyak mengandung zat besi dan aluminium.
e. Tanah kapur (terraroza)
Tanah kapur berasal dari pelapukan batuan ka-pur yang banyak terdapat di daerah pegunungan kapur. Karena kandungan bahannya, tanah ini sangat tepat untuk tanaman jati. Ciri-cirinya: war-na putih kecoklatan, keras, dan tidak subur.
Tanah gambut (organosol)
Tanah gambut adalah tanah yang berasal dari bahan organik (tumbuh-tumbuhan) yang hidup di rawa dan mengalami proses pembusukan tidak sempurna. Ciri-ciri utama tanah ini: memiliki ting-kat keasaman tinggi, dan tidak subur, tanpa pe-ngolahan khusus tidak baik untuk lahan pertanian.
g. Tanah mergel
Tanah mergel adalah tanah yang terjadi dari campuran batuan kapur, tanah liat, dan pasir. Ba-nyak terdapat di lereng pegunungan, dan dataran rendah. Tanah mergel termasuk tanah subur.
h. Tanah regosol
Tanah regosol adalah tanah berupa material-material kasar. Terbentuk dari pasir pantai atau material dari gunung api yang belum banyak me-ngalami pelapukan. Ciri-ciri utama tanah ini ada-lah berbutiran besar/kasar.
Tanah latosol
Tanah latosol adalah tanah berbatu-batu, yaitu tanah tua berupa batuan keras yang belum mela-puk dengan sempurna. Biasanya terdapat di lereng pegunungan yang mengalami erosi. Tanah jenis ini berciri keras dan tidak subur.
Tanah podzolik
Tanah podzolik adalah tanah yang terdiri dari batuan yang banyak mengandung kuarsa. Tanah jenis ini dijumpai di pegunungan tinggi.
Dari berbagai jenis tanah yang terdapat di In-donesia, yang termasuk jenis tanah subur adalah tanah vulkanis, tanah aluvial, dan tanah humus. Tanah subur berwarna hitam hingga kelabu, dan memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut. memiliki struktur yang baik;banyak mengandung garam-garaman dan mineral yang berguna bagi tumbuhan; dan mengandung cukup air untuk melarutkan ga-ram-garaman di dalamnya.
Persebaran dan pemanfaatan tanah di Indonesia
Bagaimana persebaran berbagai jenis tanah tersebut di wilayah Indonesia?
Secara keseluruhan wilayah Indonesia memi-liki iklim tropis. Namun faktor-faktor lain turut serta memberi pengaruh dalam proses pem-ben-tukan tanah. Akibatnya, di berbagai wilayah Indo-nesia ditemukan jenis tanah yang berbeda-beda. Beberapa jenis tanah tersebar hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.
Namun, sebagian jenis lain hanya dapat dijumpai di wilayah tertentu. Setiap jenis tanah memiliki kandungan berbeda sehingga dimanfaatkan untuk menanam jenis ta-naman yang berbeda pula. Oleh sebab itu, wajarlah jika di setiap wilayah Indonesia dijumpai jenis tanaman yang berbeda sesuai jenis dan kondisi tanahnya. Perhatikan gambar 1.1.9 di bawah! Untuk lebih jelas perhatikan pula tabel 1.1.2 pada halaman berikut!ilustrasi bagian produksi, 2006 menurut Peta Indonesia: Tanah Maps of Asia)
Demikian lah artikel kali ini semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk kita bersama.Sekian Terimakasih.

0 Response to "Kondisi Fisik Wilayah Indonesia dan Posisi Wilayah Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel