Konflik dan Integrasi

Konflik dan Integrasi
Konflik dan Integrasi

1. Konflik 
a. Pengertian Konflik 
Konflik merupakan proses sosial yang bersifat antagonistic dan terkadang tidak bisa diserasikan karena dua belah pihak yang berkonflik memiliki tujuan, sikap dan struktur nilai yang berbeda, yang tercermin dalam berbagai bentuk perilaku perlawanan, baik yang halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung, terkamuflase maupun yang terbuka dalam bentuk tindakan kekerasan ( Kartono )

Contoh konflik antara kelompok dan kelompok adalah konflik para pedagang kaki lima dengan para petugas ketertiban. Konflik bahkan dapat melibatkan dalam skala lebih luas. Konflik antar kelompok dan juga dapat berupa konflik antar suku bahkan antar bangsa atau antar negara. Perjuangan negara Palestina melawan penguasaan Israel pada saat sekarang merupakan salah satu bentuk konflik.

Demonstrasi
Demonstrasi
Demonstrasi tersebut tentu disebabkan perbedaan keinginan buruh dengan perusahaan (majikan) atas pengupahan yang berlaku. Demonstrasi yang terjadi diatas merupakan salah satu contoh konflik dalam kehidupan masyarakat.

b. Faktor – Faktor Penyebab Konflik Sosial.
• Perubahan – Perubahan Nilai yang Cepat.
Perundang – undangan atau peraturan yang sifatnya mengubah kebiasaan masyarakat biasanya dilakukan melalui berbagai kajian terlebih dahulu. Hal ini dilakukan supaya masyarakat tidak kaget dengan perubahan yang tiba – tiba terjadi. Sebagai contoh, peraturan merokok ditempat umum. pemerintah tidak langsung memberlakukannya di seluruh masyarakat Indonesia, tetapi di beberapa tempat yang terbatas terlebih dahulu, lalu perlahan – lahan terus meluas dalam rangka memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memahami peraturan tersebut. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan itu akan menyebabkan konflik sosial. Suatu konflik mempunyai kecenderungan atau kemungkinan untuk mengadakan penyesuaian kembali norma – norma dan hubungan – hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu maupun bagian – bagian kelompok tersebut.

• Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Orang dibesarkan dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda – beda. Dalam lingkup yang lebih luas, berbagai kelompok kebudayaan bisa saja memiliki nilai – nilai dan norma – norma sosial yang berbeda – beda. Perbedaan – perbedaan inilah yang dapat mendatangkan konflik sosial, sebab kriteria tentang sopan – tidak sopan, pantas – tidak pantas atau bahkan berguna atau tidak bergunanya sesuatu baik itu benda fisik maupun non fisik bisa berbeda – beda.

• Perbedaan Individu.
Manusia adalah individu yang unik. Jangankan manusia yang berbeda orang tua, suku dan ras. Manusia yang lahir dari dalam satu Rahim pun memiliki banyak perbedaan. Walaupun secara fisik sekilas sama, seperti dalam kasus bayi kembar, belum tentu pendirian dan perasaan kedua kembar tersebut sama. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial. Sebab, dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Sebagai contoh, para siswa dalam satu kelasmu tentu berbeda tanggapannya ketika mendengarkan music dangdut. Ada yang merasa terganggu karena suara gendang, tetapi ada pula yang merasa terhibur

• Perbedaan Kepentingan.
Bentrokan kepentingan dapat terjadi di bidang ekonomi, politik, dsb. Hal ini karena setiap individu memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu. manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda – beda. Dalam waktu yang bersamaan, masing – masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda – beda. Kadang – kadang orang dapat melakukan hal yang sam, tetapi untuk tujuan yang berbeda – beda. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dan individu

c. Akibat – Akibat Konflik Sosial.
  • Meningkatnya Solidaritas Sesama Anggota Kelompok.
  • Retaknya Hubungan Antar Individu atau Kelompok.
  • Terjadinya perubahan Kepribadian Para Individu.
  • Terjadinya perubahan Kepribadian Para Individu.
  • Terjadinya perubahan Kepribadian Para Individu.

d. Cara Menangani Konflik 
• Menyesuaikan Kepada Keinginan Orang Lain.
Terdapat individu yang ingin diterima dan disukai orang lain. ia tidak merasa bahwa konflik harus dihindari demi keserasian (harmoni) dan ia yakin bahwa konflik tidak dapat dibicarakan jika merusak hubungan baik. Ia khawatir apabila konflik berlanjut, seseorang akan terluka dan hal itu akan menghancurkan hubungan pribadi dengan orang tersebut. Ia mengorbankan tujuan pribadi untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain.

• Kolaborasi.
Kolaborasi memandang konflik sebagai masalah yang harus diselesaikan. Atas dasar itu, dicarilah cara – cara untuk mencari cara mengurangi ketegangan kedua belah pihak. ia berusaha memulai sesuatu pembicaraan yang dapat mengenali konflik sebagai suatu masalah dan mencari pemecahan yang memuaskan keduanya

• Tawar Menawar
Dalam proses tawar – menawar, individu akan mengorbankan sebagian tujuannya dan meminta lawan konflik mengorbankan sebagian tujuannya juga.

• Memaksakan Kehendak
Individu atau kelompok yang memandang bahwa pendapatnya atau idenya paling benar. Oleh karena itu, dengan segala cara, konflik harus berakhir dengan kemenangan di pihaknya. Karena itu, dia atau mereka berusaha menguasai lawan – lawannya dan memaksa menerima penyelesaian yang diinginkan. Tujuan pribadinya dianggap sangat penting, sedangkan hubungan dengan orang lain kurang begitu penting. Tipe ini tidak peduli terhadap kebutuhan orang lain. Ia tidak peduli apakah orang lain menyukai dan menerima dirinya atau tidak. Ia menganggap bahwa konflik harus diselesaikan dengan cara satu pihak harus menang

• Menghindar.
Kadang orang merasa tidak ada manfaatnya melanjutkan konflik dengan orang atau kelompok lain. Hal ini mungkin disebabkan keyakinan bahwa dia tidak akan menang menghadapi konflik. Dalam hal ini, dia mengorbankan tujuan pribadi ataupun hubungannya dengan orang lain. Orang ini berusaha menjauhi masalah yang menimbulkan konflik ataupun orang yang bertentangan dengannya

2. Proses integrasi

Integrasi Sosial adalah proses penyesuaian unsur – unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur – unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi ras, etnis, agama, bahasa, kebiasaan, system nilai dsb.

Menurut Baton, integrasi adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan fungsi penting pada perbedaan ras tersebut

Syarat terjadinya integrasi sosial, yaitu sebagai berikut :
  • Anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan – kebutuhan mereka.
  • Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (konsensus) bersama mengenai nilai dan norma.
  • Nilai dan norma sosial itu berlaku cukup lama dan dijalankan secara konsisten

a. Faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya proses integrasi, antara lain :
• Mobilitas Geografis.
Semakin sering anggota suatu masyarakat datang dan pergi, semakin besar pengaruhnya bagi proses integrasi.

• Besar Kecilnya Kelompok
Jumlah anggota kelompok mempengaruhi cepat lambatnya integrasi karena membutuhkan penyesuaian di antar anggota.

• Homogenitas Kelompok
Pada masyarakat yang homogenitasnya rendah integrasi sangat mudah tercapai, demikian juga sebaliknya.

• Efektifitas Komunikasi.
Semakin efektif komunikasi, semakin cepat pula integrasi anggota – anggota masyarakat tercapai.

b. Bentuk – Bentuk Integrasi Sosial, diantaranya :
• Integrasi Fungsional
Integrasi yang terbentuk sebagai akibat adanya fungsi – fungsi tertentu dalam masyarakat. Sebagai contoh, Indonesia terdiri dari berbagai suku mengintegrasikan dirinya dengan melihat fungsi masing-masing suku bugis melaut, jawa bertani, Minang pandai berdagang.

• Integrasi Normatif.
Yaitu Integrasi yang terjadi akibat adanya norma – norma yang berlaku di masyarakat. Contoh : Masyarakat Indonesia dipersatukan dengan Semboyan Bhineka Tunggal Ika

• Integrasi Koersif.
Yaitu Integrasi yang dilakukan dengan cara paksaan. Hal ini biasanya dilakukan bila diyakini banyaknya akibat negatif jika integrasi tidak dilakukan atau pihak yang diajak untuk melakukan integrasi sosial enggan melakukan / mencerna integrasi.

c. Proses integrasi dilakukan melalui dua hal, yaitu :
Asimilasi.
Bertemunya dua kebudayaan atau lebih yang saling mempengaruhi sehingga memunculkan kebudayaan baru dengan meninggalkan sifat asli tiap – tiap kebudayaan

• Akulturasi.
Proses sosial yang terjadi bila kelompok sosial dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada kebudayaan asing (baru) sehingga kebudayaan asing (baru) diserap / diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri tanpa meninggalkan sifat asli kebudayaan penerima

0 Response to "Konflik dan Integrasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel